Konsep Pusat Pertumbuhan dan Kutub Pertumbuhan

Konsep Pusat Pertumbuhan dan Kutub Pertumbuhan

Konsep Pusat Pertumbuhan dan Kutub Pertumbuhan

Konsep Pusat Pertumbuhan dan Kutub Pertumbuhan

Pusat pertumbuhan (growth center) dan kutub pertumbuhan (growth pole) merupakan dua istilah yang sering digunakan dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah. Pusat pertumbuhan berkaitan erat dengan konsep keruangan, sedangkan kutub pertumbuhan pada awalnya merupakan konsep ekonomi. Konsep growth centre dan growth pole diperkenalkan oleh Francis Perroux, berdasarkan hasil pengamatan terhadap perkembangan kota dan industri di Eropa.

 

Kesimpulan dari pengamatan Perroux adalah fakta bahwa pertumbuhan tidak terjadi di sembarang tempat dan juga tidak terjadi secara serentak. Pertumbuhan terjadi pada titik-titik atau kutub-kutub perkembangan dan dengan intensitas yang berubah-ubah. Perkembangan tersebut menyebar secara beraneka ragam dengan efek yang beraneka ragam juga terhadap keseluruhan perekonomian wilayah. Konsep dasar dari teori pusat pertumbuhan adalah usaha untuk mengembangkan suatu tipologi ruang ekonomi sebagai suatu kekuatan yang terdiri atas pusat-pusat yang memiliki kemampuan untuk menarik kegiatan ekonomi di sekitarnya.

Konsep kutub pertumbuhan dan konsep pusat pertumbuhan didasarkan pada konsep keunggulan industri dan konsep polarisasi. Konsep keunggulan industri sebagai pusat/kutub pertumbuhan melalui keberadaan perusahaan-perusahaan industri besar yang mendominasi kegiatan ekonomi. Tentunya pemilihan lokasi industri telah memperhatikan faktor infrastruktur, bahan baku, dan tenaga kerja. Sementara itu, konsep polarisasi merupakan konsep yang menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat dari industri unggulan dapat mendorong pemusatan dari kegiatan ekonomi lainnya menuju ke dalam kutub pertumbuhan. Contoh penerapan konsep pemusatan dapat terlihat dari adanya aglomerasi industri.

Wilayah pertumbuhan adalah wilayah yang identik dengan kegiatan industri dan perdagangan. Suatu wilayah dapat memiliki satu atau beberapa kota besar sebagai pusat pertumbuhan yang di dalamnya terdapat berbagai kegiatan, baik kegiatan komersial maupun kegiatan pelayanan publik. Keuntungan dari berbagai kegiatan di pusat pertumbuhan diharapkan dapat tersebar ke wilayah sekitarnya. Pusat pertumbuhan sengaja dirancang secara khusus agar dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitarnya dalam upaya pengembangan wilayah.

Wilayah yang luas merupakan suatu potensi pembangunan selama dapat dikelola dengan baik. Salah satu pengelolaan yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pembagian kerja pada masing-masing wilayah sesuai dengan potensi yang dimiliki. Atas dasar efisiensi kerja semacam inilah negara-negara di Eropa yang umumnya memiliki wilayah sempit, bersama-sama membentuk Uni Eropa. Mereka mencontoh Amerika Serikat yang telah terlebih dahulu sukses dengan model pengembangan wilayah semacam ini.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas, dalam melakukan pengembangan wilayah juga menerapkan konsep pusat pertumbuhan. Oleh karena wilayahnya yang luas, terdiri atas pulau-pulau, serta memiliki keberagaman potensi sumber daya alam dan adat budaya, maka dibuat pembagian wilayah pembangunan. Pembagian wilayah pembangunan dimaksudkan untuk melakukan pengembangan wilayah sesuai dengan potensi yang dimiliki wilayah tersebut. Selanjutnya, dibangun kerja sama antarwilayah agar masing-masing wilayah dapat saling memberikan keuntungan.

Di Indonesia terdapat lima wilayah pembangunan utama sebagai berikut.

  1. Wilayah pembangunan A dengan pusat utama Kota Medan.
  2. Wilayah pembangunan B dengan pusat utama Kota Jakarta.
  3. Wilayah pembangunan C dengan pusat utama Kota Surabaya.
  4. Wilayah pembangunan D dengan pusat utama Kota Makasar.
  5. Wilayah pembangunan E dengan pusat utama Kota Ambon.

Baca Artikel Lainnya: